Text
Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran Islam
Tekhnologi internet menawarkan dua budaya; budaya Hollywood dan budaya perpustakaan. Sayangnya, budaya Hollywood yang menawarkan pornografi, budaya masa, materialisme dan hedonism lebih menarik bagi generasi Y. Kehadiran internet, dengan kata lain, belum mampu menciptakan budaya perpustakaan serta meningkatkan etos pencarian dan pengembangan ilmu bangsa kita. Terhadap ‘ancaman’ ini, sejatinya Islam sebagai ‘agama pendidikan’ mempunyai peran besar. Dengan landasan amaliah keimanannya, pendidikan Islam harus mampu memberi benteng penangkal pengaruh budaya Hollywood.
Pada saat yang bersamaan, pendidikan Islam harus mampu membuat ‘screening’ dan memanfaatkan kehadiran internet untuk membangun budaya ilmu dan budaya perpustakaan. Ini menghajatkan sebuah sikap proaktif dan membuang sikap reaktif. Selain itu, hendaknya kita menempatkan posisi Islam bukan sebagai korban (victim) dari era internet. Kehadiran ruang virtual internet justru harus dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan-pesan Islam kepada generasi kita. Penyebaran nilai-nilai Islam lewat internet akan lebih cepat mewujudkan Islam sebagai yukhrijuhum min al-zhulumat ila al-nur (pengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya).
Sebagaimana dalam ajaran Islam lebih menekankan keseimbangan antara dunia dan akherat. Dari ajaran tersebut menjadikan kita mampu mendialogkan antara kepentingan dunia dan akherat. Nilai Islam menjadikan landasan, dasar motifasi dan inspirasi kebaikan dan kemajuan dunia. (Qodri Azizy: 2003).
| PMBB0643 | 297.01 AZI m | My Library (Agama Islam) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain