Text
Filosofi Kopi
Sinopsis
Berisikan delapan belas judul, antologi cerita dan prosa ini merupakan kumpulan karya Dee selama satu dekade (1995-2005).
Filosofi Kopi: Dua sahabat, Ben dan Jody, berambisi untuk meramu kopi dengan citarasa sempurna. Kedai mereka, Filosofi Kopi, adalah tempat yang begitu dicintai. Bukan hanya karena kopi yang luar biasa, melainkan juga karisma Ben sebagai seorang barista. Ben?s Perfecto, mahakarya Ben, akhirnya harus berhadapan dengan Kopi Tiwus, kopi sederhana dari sebuah warung di desa kecil milik Pak Seno.
Mencari Herman: Hera terobsesi ingin punya kenalan bernama Herman. Keinginan yang sekilas tampak sederhana ternyata tidak sesederhana hidup Hera yang penuh drama. Babak demi babak pencarian Herman menandai perjalanan Hera dan orang yang dipanggilnya Abang.
Surat Yang Tak Pernah Sampai: Apa rasanya perpisahan yang dilakukan sepihak? Apa rasanya memendam cinta yang tak pernah punya kesempatan bersuara? Ketika sepucuk surat menjadi satu-satunya sarana, surat itu menjadi begitu sarat.
Sikat Gigi: Tio tak pernah memahami konsep cinta Egi yang dinilainya irasional dan buta. Sementara Egi merasa Tio terlalu rasional untuk memahami cinta. Persepsi keduanya dipertemukan oleh sebatang sikat gigi.
Sepotong Kue Kuning: Indi tahu ia jatuh cinta kepada orang yang salah. Tetap saja, ia menjalaninya bertahun-tahun. Sepotong bulan di langit hitam menjadi penanda waktunya, menemani Indi untuk akhirnya menemukan kebebasan yang ia cari.
Lara Lana: Lana memiliki sahabat yang luar biasa, belahan jiwa, satu-satunya manusia yang bisa memahaminya. Sayangnya, persahabatan mereka harus berubah, tepat pada saat Lana menyadari bahwa sahabatnya adalah satu-satunya cinta yang ingin ia miliki.
Buddha Bar: Di mata Nelly, ia memiliki empat laki-laki yang tak tergantikan: Probo, Omen, Jack, Bejo. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Nelly tak harus memilih. Ia cukup menerima bahwa ia tak bisa memilih.
Rico de Coro: Pangeran kecoak bernama Rico de Coro jatuh cinta kepada Sarah. Masalahnya, Sarah bukan kecoak, melainkan manusia. Ayah Rico, Hunter, berusaha menyadarkan anaknya. Sementara itu, keluarga Sarah semakin rajin memburu kecoak untuk pakan ikan. Terdesak untuk menyelamatkan kerajaannya, Hunter terpaksa menggunakan cara yang berbahaya.
Puisi dan prosa pendek dalam antologi ini meliputi Salju Gurun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Diam, Cuaca, Lilin Merah, Spasi, dan Cetak Biru.
| PMBB0008 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain