Text
Surat untuk Putriku
Anakku, sudah lama sejak terakhir kali Ibu menulis surat untukmu. Bagaimana kabarmu? Apakah kamu makan dengan baik? Apakah kamu menikmati kehidupan pernikahanmu di Amerika? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Meskipun kita sering berkomunikasi melalui telepon atau pesan, Ibu selalu khawatir tentang keadaanmu. Ketika kita berjauhan, Ibu tidak bisa berhenti memikirkan apakah anakku makan dengan baik atau apakah ada sesuatu yang membuatmu sakit. Kadang-kadang Ibu berpikir seperti ini. Apakah Ibu pernah merindukan kabar seseorang dengan begitu cemas seperti ini sebelumnya? Sebelum Ibu melahirkanmu, Ibu adalah orang yang terobsesi dengan pencapaian dalam pekerjaan, selalu melihat ke depan dan terus berlari. Jujur saja, Ibu merasa bisa melakukan apa saja. Ibu adalah orang yang egois yang tidak mengenal takut. Namun, setelah melahirkanmu, Ibu mulai merasakan beban emosional. Ketika merawatmu yang masih bayi tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa, di tempat kerja pun Ibu tidak bisa lepas dari rasa cemas, menjalani hari hari yang tidak dapat diprediksi seperti ketika kamu tiba-tiba jatuh dan terluka atau ketika demammu sangat tinggi. Ibu akhirnya menyadari bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.
| PMBB01622 | 155.25 HEE s | My Library (Filsafat dan Psikologi) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain